Pengurus Fosei Periode 2015

Ekonom Rabbani ....BISA!!!.

Rabu, 30 Mei 2018

REVIEW MATERI RDC A CASH WAQF INVESTMENT MODEL:AN ALTERNATIVE MODELFOR FINANCINGMICRO-ENTERPRISES IN MALAYSIA In English Language


Disusun Oleh : Masfufah (Research Departement)

Micro Enterprises (MEs) in Malaysia becomes as an important engine for economic growth. They account for a substantial share of total SMEs (Small and Medium Enterprises), employment and gross domestic product (GDP). Indeed, they are contributing significantly to the poverty alleviation. In Malaysia, the definition of MEs follows the definition developed by the National SME Development Council (NSDC) based on two criteria, namely full-time employees and annual sales turnover. MEs in Malaysia are defined as the establishment with less than five employees or less than RM 300,000 of the sales turnover for manufacturing sectors and RM300,000 for other sectors namely agriculture, mining, quarrying, construction and services. However, if one of the criteria of MEs either number of employee or annual sales turnover is exceeded the requirement, then the lowest will be given priority.
MEs in Malaysia constitute 77 percent of total SMEs in Malaysia along with small and medium enterprises with 20 percent and 3 percent, respectively. It forms a largest formation of the enterprises along with small and medium enterprises. Furthermore, among the sectors, the bulk of the services sector is micro establishments, representing over 79.0 per cent of total SMEs. The manufacturing and agriculture sectors also show the same pattern where micro businesses are predominant, accounting for more than half, with 57.1 per cent and 56.3 per cent, respectively. It is followed with the construction sector, where the MEs form about 45 percent.
Cash Waqf means the devotion of an amount of money by a founder and the dedication of its usufruct in perpetuity to the prescript purposes. In this case, the donor endowed Cash Waqf instead of real estate or fixed asset. The use of Cash Waqf comes into the field in eight century after Imam Zufar had approved its use. Based on his view, Cash Waqf can be invested through partnership basis and the profits generated would be spent for the charity purposes.
The proposed Waqf based Islamic microfinance institution model (WIMFI) for channeling funds to facilitate wealth creation for the poor. The WIMFI model constitutes of cash Waqf which becomes the capital of microfinance institutions. In addition, along with the Waqf endowment donated by the founders, additional Waqf-funds can be generated by issuing Waqf certificates. Later, the Islamic MFI and the client can jointly finance the purchase and selling of a certain good and distribute the profit via various kinds of financing arrangements such as Mudharaba, Musharakah, Murabahah, Ijarah, Salam, and Istisna. However, his study is more related to the integration of Waqf into Islamic microfinance institution. It differs from the present study where the present study focuses on Cash Waqf and integrating it directly to microenterprise.
It is believed that the social pressure groups that assert subjective norms, including family members, relatives, friends, neighbor and co-workers, influence the decision-making process for the survey respondents who are interested in using Cash Waqf Investment Model in the future. This finding is consistent with previous research that social pressure groups have a positive impact and strong influence on behavioral intention.
The outcome of the current study for subjective norm is also similar in the direction. The intention to use Integrated Cash Waqf Investment Model by micro enterprises is influenced by social pressure groups, including family members and friends. Hence, it is recommended that Waqf institutions recognize the power of social pressure groups and develop methods of information dissemination to these groups particularly.
Therefore, Waqf institutions need to find ways to provide and disseminate information about Cash Waqf Investment Model to the social pressure groups of influence (for example, family, friends, and co-workers). For example, Waqf institutions can utilize mass media such as television, radio, newspaper or magazine to provide information about Cash Waqf Investment Model. Furthermore, Waqf institutions can also conduct awareness programmes or campaign to the social pressure groups of influence. By providing and disseminating information about Integrated Cash Waqf Investment Model to the social pressure groups of influence, micro enterprises may be more likely to gain support for their intention to use Integrated Cash Waqf Investment Model. This has implications for individuals and potential micro-entrepreneurs. Thus, it can be suggested that Waqf institutions has to plan a way on how to develop connection with social groups that relate to micro enterprises including family, friends, and co-workers.
Although it can be argued that various financial and human capital development programmes and schemes are provided by the government and relevant agencies, numerous issues in relation to access to finance and human capital development appeared. Based on empirical findings, the issues related to accessing finance such as (i) high interest rate, (ii) strict documentation requirement, (iii) strict collateral requirement, (iv) insufficient amount of financing, (v) long loan durations, and (vi) nature of business are affecting the development and contribution of microenterprises in Malaysia. On the other hand, issues of experience, training, and skills are also hampering the human capital development of microenterprises.



SUMBER PUSTAKA
Duasa, Jarita dan Mohamed Asmy Bin Mohd Thas Thaker. 2016. ”A Cash Waqf
Investment Model: An Alternative Model for Financing Micro-Enterprises in Malaysia”. Journal of Islamic Monetary Economics and Finance. Volume 1, Nomor 2.


MUSYARAKAH : SEBUAH SOLUSI STRATEGIS MENGURANGI IMPOR GARAM MENUJU INDONESIA NEGARA KUAT ASEAN ECONOMY COMMUNITY


Ditulis Oleh : Education Departement


A.    Pendahuluan
AEC(Asean Economic Community) atau dalam bahasa Indonesia MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) adalah salah satu keputusan dalam Declaration of ASEAN Concord II yang diselenggarakan di Bali pada 7 Oktober 2003 dan merupakan pasar basis produksi, yang diartikan sebagai liberalisasi aliran barang, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil.Atau dengan kata lain berbagai hambatan baik berupa bea masuk atau sebagainya tidak dihapuskan namun diturunkan. AEC sendiri memiliki lima pilar utama yaitu, ASEAN yang Global;keduaEkonomi yang Terintegrasi dan Terpadu;ketiga ASEAN yang Kompetitif, Inovatif dan Dinamis;keempatPeningkatan Konektifitas Kerjasama Sektoral; kelima ASEAN yang Tangguh, Berorientasi dan Berpusat pada SDM. Dengan lima pilar tersebut, sudah sangat jelas bahwa semua pasar di beberapa negaraAsiaTenggara akan menjadi pasar tunggal dengan menjadikan kawasan ASEAN sebagai pusat dari pasar produksi.
Ditengah situasi diterapkannya AECmenimbulkan berbagai polemik dibidang perekonomianIndonesia.Apakah Indonesia selama ini telah siap menghadapi AEC?Atau dapatkah Indonesia bersaing dalam pasar bebasyang menjadi pilar utama AEC?
Dampak dari kebijakan yang diambil ini seperti dua sisi mata uang.Kebijakan ini bisa membawa manfaat yang besar bagi perekonomian Indonesia jika dihadapi secara maksimal. Sebaliknya, jikadalam menghadapi pasar tunggal menggunakan kebijakan secara tidak tepat maka akan membawa dampak kerugian bagibangsa Indonesia sendiri.Karena kebijakan yang belum jelas dari pemerintah dalam menghadapi AEC membuat masyarakat menjadibingung. Terutama masyarakat kalangan pengusaha dalam negeri, mereka kebingungan karena merasa dibiarkan sendiri dalam menghadapi masalah besar ini. Mustahil bila mereka dapat menghadapi pasar tunggal di mana pihak yang memiliki modal besar dan strategi jitu yang akan menjadi pemain dalam pasar tunggal ini. Seriuskah pemerintah Indonesia dalam menyetujui rancangan AEC ini di ASEAN? Atau pemerintah hanya mencoba menguntungan beberapa pihak saja tanpa mementingkan pihak yang lain?

B.     Indonesia sebagai Lahan Garam yang Terbengkalai
Seharusnya Indonesia tidak perlu kebingungan dalam menghadapi AEC. Karena Indonesiamasih memiliki sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang cukup besar untuk dapat dimanfaatkan sebagai penopang perekonomian bangsa.Dari kondisi sosialnya,Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia dengan jumlah penduduk mencapai 261.890.872jiwa. Tentu saja hal ini membuatIndonesia memiliki pasokan tenaga kerja yang memadai. Namun, hal inisangat disayangkankarena hanya sedikit tenaga kerja yang memiliki skill yang mumpuni untuk dapat bersaing di dunia kerja terlebih di tingkat internasional.
Tingkat pendidikan yang rendah serta keterampilan yang kurang merupakan faktor utama yang menjadikan tenaga kerja Indonesia semakin tertinggal dibandingkan tenaga kerja dari negara-negara lain.Rata-rata masyarakat Indonesia hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah menengah atas sepeti program yang dicanangkan pemerintah selama ini. Ditambah lagi jarangnya masyarakat dalam mendapat pelatihan keterampilan maupun keahlian.
Begitu pula ditinjau dari keadaan geografi bangsa ini, Indonesia merupakan negara maritim yang memilikilautan seluas 6.279.000 km persegi dengan garis pantai sepanjang 99.093 km, serta sebagai negara dengan garis pantai terpanjangke-2 di dunia.Hal ini memungkinkan Indonesia memiliki kekayaan perairan yang berlimpah, terutama sektor kelautan seperti perikanan, udang, rumput laut, mutiara, dan berbagai komoditas lainnya. Namun, terdapat satu sektoryang ironi antara kenyataan dan harapan, yaitu sektor garam.Negara yang memilki luas wilayah laut sebesarini masih mengimpor garam dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri. Dimanakah garam Indonesia berada? Republik Rakyat China(RRC) dengan panjang garis pantai 14.500 Km dapat memproduksi 58 juta ton garam. Cina pun saat initelahmenjadi negara pengekspor garam terbesar di dunia. Bagaimana dengan Indonesia?
Jika di kalkulasikan,kebutuhan garam dalam negeri adalah sebesar 2,8 juta ton/tahun untuk kepentingan rumah tangga atau kebutuhan industri. Namun,Indonesia saat ini hanya dapat memproduksi garam sebesar 1,2 juta ton/tahun. Seharusnya dengan luas lahan potensial garam seluas 25.702.06 Ha yang dimiliki,Indonesia dapat memenuhi kebutuhan garam dalam negeri atau bahkan menjadi negarapengekspor garamdunia.Terlalu primitif jika kita bertanya mengapa selama ini Indonesia masih belum memenuhi kebutuhan garamnya sendiri. Sebenarnya ada banyak masalah klasik yang berlarut-larut dan belum dapat diselesaikan oleh pemerintahsampai saat ini.Pertama, karena kurangnya produksi garam oleh petani garam lokal. Kedua, karena kualitas garam yang diproduksi oleh petani lokal dianggap kurang bagus. Dari dua permasalahan ini, ternyata didapat permasalahan lain yang lebih kompleks. Hasil produksi garam lokal yang sedikit disebabkan kurangnya infrastrukturmaupun permodalan mendukung yang diberikan pemerintah terhadap petani garam lokal.
Sebagai contoh, petani garam ingin memproduksi garam dengan kuantitas yang cukup banyak dan kualitas baik. Namun mereka terkendala pada permodalan. Karena mereka sulit mendapatkan modal dari pemerintah maka mereka lebih memilih meminjam modal pada pihak pengepul ataupun tengkulak. Dengan meminjam modal kepada tengkulak mereka akan terkena jerat permainan nakal para tengkulak. Biasanya Tengkulak akan meminjamkan modal kepada petani dengan sarat petani harus menjual hasil panen garamnya kepada tengkulak dengan harga under market yang telah ditentukan oleh tengkulak. Jikapun petani memiliki modal yang memadai untuk bertani garam, mereka akan kebingungan dalam memasarkan garamnya karena infrastruktur yang tidak memadai baik beruap jalan, jembatan dan sebagainya sehingga mereka akan tetap menjual hasil panen garamnya kepada tengkulak dengan harga rendah sesuai keinginan para tengkulak. Hal ini membuat petani garam semakin tidak berminat dalam memproduksi garam karena hanya akan berujung pada kerugian yang disebabkan oleh harga yang dipermainkan tengkulak. Kualitas garam pun semakin buruk karena petani hanya memikirkan bagaimana agar dapat membayar hutang kepada tengkulak tanpa mengalami kerugian.
Ini semua menjadi hal ironi meskipun belum sampai dianggap tabu secara mayoritas. Kenapa tidak, kerja keras petani garam lokal hanya dipermainkan oleh para tengkulak yang mengambil keuntungan seenak mereka sendiri. Jika siklus ini terus dibiarkan, lama-kelamaan petani akan mengurangi kualitas dan kuantitas produksi atau bahkan petani berhenti memproduksi garam dan beralih profesi. Jika ini terjadi maka Indonesia akan selalu bergantung pada impor garam untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri. Masalah ini tidak bisa terus menerus diabaikan, pemerintah maupun masyarakat harus mengambil tindakan agar petani garam Indonesia tidak terus terjajah oleh harga garam yang semakin mencekik.
C.    Musyarakah Solusi Strategis untuk Menghadapi AEC
Di tengah banyaknya kebijakan-kebijakan yang dicanangkan pemerintah, namun hanya sedikit yang berhasil menyelesaikan masalah ini. Hal ini terjadi karena pemerintah hanyamencoba menyelesaikan kulit masalah tanpa mencoba menyelesaikan akar masalah itu sendiri. Mungkin kita melupakan sesuatu yang sebenarnya dapat menyelasaikan masalah ini. Bukankah kita negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia? Kenapa kita harus kebingungan dalam menyelesaikan masalah ini padahal kita bisa menggunakan dasar-dasar islam yang sudah pasti kebenarannya karena langsung diatur oleh Tuhan Semesta Alam. Mari kita berpikir sebentar tentang dasar-dasar islam yang membahas tentang perekonomian. Ada ekonomi syariah yang memiliki berbagai teori yang sesuai dengan permasalahan yang kita hadapi.
Permasalah seperti antara petani garam dengan tengkulak merupakan permasalahan bagi hasil. Bagi hasil dalam ekonomi syariah biasa disebut musyarakah. Musyarakah atau sering disebut syarikah atau syirkah berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti: sekutu atau teman peseroan, perkumpulan, perserikatan (Munawwir, 1984: 765). Syirkah dari segi etimologi mempunyai arti: campur atau percampuran. Maksud dari percampuran disini adalah seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehingga antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya sulit untuk dibedakan lagi (Al-Jaziri, 1990: 60). Definisi syirkah menurut mazhab Maliki adalah suatu izin ber-tasharruf bagi masing-masing pihak yang bersertifikat. Menurut mazhab Hambali, syirkah adalah persekutuan dalam hal hak dan tasharruf. Sedangkan menurut Syafi’i, syirkah adalah berlakunya hak atas sesuatu bagi dua pihak atau lebih dengan tujuan persekutuan (Ghufron A, 2002: 192). Sayyid Sabiq mengatakan bahwa syirkah adalah akad antara orang Arab yang berserikat dalam hal modal dan keuntungan (Sabiq, 1987: 193). M. Ali Hasan mengatakan bahwa syirkah adalah suatu perkumpulan atau organisasi yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang bekerja sama dengan penuh kesadaran untuk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar sukarela secara kekeluargaan (Hasan, 2003: 161). Jadi, syirkah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam suatu usaha perjanjian guna melakukan usaha secara bersama-sama serta keuntungan dan kerugian juga ditentukan sesuai dengan perjanjian.
Petani garam biasanya mengalami kesulitan dalam permodalan dan para tengkulak selalu mencoba mengambil kesempatan ini seperti yang telah di jelaskan di atas. Seharusnya kita merubah cara berfikir para tengkulak agar sesuai ekonomi syariah. Para tengkulak dengan para petani garam bisa menggunakan akad musyarakah.
Ilustrasipenyerahan modal dari tengkulak kepada petani garam adalah seperti ini. Seorang petani garam membutuhkan modal dan para tengkulak memberikan modal kepada petani tetapi dengan menggunakan sistem musyarakah atau bagi hasil. Petani dan tengkulak juga harus menetapkan kesepakatan proporsi bagi hasil agar semuanya memiliki kejelasan. Petani sebaiknya hanya mengunakan modal ini untuk proses produksi garam.
Dan pada saat petani telah mendapatkan hasil panen, maka sang petani wajib mengembalikan pokok modal yang telah di berikan oleh tengkulak. Inilah keuntungan melakukan musyarakah, tengkulak dan petani juga mendapatkan proporsi bagi hasil dari keuntungan yang didapat dalam pengolahan produksi garam. Jadi, tengkulak tidak hanya memdapatkan pokok modal tapi juga mendapat keuntungan bagi hasil. Sistem ini tidak hanya membahas sebatas pada keuntungan, namun juga membahas jika terjadi kerugian disaat pengolahan modal.  Jika hasil panen mengalami kerugian, maka kerugian itu akan di tanggung bersama antara petani dan tengkulak sesuai proporsi modal yang disertakan serta tidak ada pihak yang terdzalimi. Semua teori ini juga akan membuat petani garam terpacu untuk menghasilkan garam dengan kualitas yang semakin baik dan kuantitas yang semakin banyak agar memperoleh keuntungan yang semakin besar dan meningkatkan taraf hidup petani garam tanpa menghilangkan lapangan pekerjaan para tengkulak.
D.    Kesimpulan
Telah nyata bahwa konsep Ekonomi Islam memberikan jawaban dari permasalahan yang ada dan teori ini juga dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapi Indonesia dalam menyongsong Asean Economiy Community(AEC).Seperti yang telah dijelaskan diatas, dengan akad musyarakah atau bagi hasil merupakan salah satu cara supaya bisa membuat Indonesia terbebas dari permasalahan impor garam yang berlebih karena petani akan semakin terpacu memproduksi garam dengan kualitas yang semakin baik dan kuantitas yang semakin meningkat. Indonesia bisa memenuhi kebutuhan garamnya dan bahkan bisa menjadi negara pengekspor garam dunia dengan besarnya potensi yang dimiliki Indonesia. Sehingga program AEC ini dapat menjadi peluang yang memberikan banyak manfaat dan juga bisa mengubah pola pikir negara lain bahwa Indonesia adalah negara yang mandiri dan dapat menjadi pemain dalam ekonomi ASEAN.

.







SUMBER PUSTAKA


2017. Kebutuhan Data Ketenagakerjaan untuk Pembangunan Berkelanjutan (on-line).
2018. 10 Negara Penghasil Garam Terbesar di Dunia.

METODE PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH (Review Materi PKTI)


Disusun Oleh : Masfufah (Research Departement)


A.    PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH
Tulisan yang mengungkapkanbuahpikiran, yang diperolehdarihasilpengamatan, penelitian, ataupeninjauanterhadapsesuatu yang disusunmenurutmetode dan sistematikatertentu, dan yang isi dan kebenarannyadapatdipertanggungjawabkan.
Pada dasarnyaditandaisetidak-tidaknyaoleh :
1.      Hasilpenelitianataukajian,
2.      Dilakukan oleh seorangatautim
3.      Penulisannyamengikutikaidahatau tata carailmiah
4.      Disajikankepadapublikmelaluijurnalataupertemuanilmiah

B.     OUTLINE
1.      Proses Pencarian Ide dan Gagasan
a.       Penelitiharusskeptis
b.      Banyak membaca, mendengar, melihat dan menulis
c.       Inspirasibisadatangdari mana saja dan kapansaja
d.      Patrikan 5 W dan 1 H
e.       Selalucaripermasalahantematiknya
Ciri-Ciri Karya Ilmiah (Artikel Ilmiah)
a.       Menyajikanfaktaataufenomenasecaraobjektif, sistematis dan logis
b.      Bersifatorisinil, kreatif, dan handal
c.       Menggunakanmetodeilmiahsesuaidengankonsensusilmupengetahuanselingkung-bidang
d.      Terujimelaluiverifikasi dan falsifikasi
e.       Menghasilkantemuan/ model /terminologi/ koreksibaru/ tesisatauteori
f.       Bermanfaatbagikesejahteraan dan peradabanmanusia


Ragam/JenisKaryaIlmiah
Abstrak
Laporaneksekutif
Risalah
Ringkasan
Tanggapan
Kolokium
Ikhtisar
Kertaskerja
StudiKasus
Tinjauanbuku
Makalahproyek
LaporanPenelitian
Kritik
LaporanKegiatan
Skripsi
Makalahpemikiran
Laporan status
Tesis
Laporananalisis
LaporanKepustakaan
Desertasi
Makalahpendirian
RekamanFakta
ArtikelIlmiah
Makalahopini
MakalahIlmiah

2.      SistematikaPenulisan
a.      Karyatulis yang didasarkanatashasilpenelitian
1)      Judul/topik
2)      Abstrak
3)      Pendahuluan: latarbelakang, perumusanmasalah, dan tujuanpenelitian
4)      Kajian Literatur
5)      Metodologi
6)      Hasil dan Pembahasan
7)      Penutup
8)      PustakaAcuan (Referensi)
b.      Karyatulis yang didasarkanatashasilpengkajian
1)      Judul/topik
2)      Abstrak
3)      Pendahuluan: uraianmateritentangmengapamemilihjudul/topiktulisanuntukdibahas, kedalaman dan keluasanmateri yang akandibahas, dan apatujuannya.
4)      Kajian Literatur
5)      Pembahasan: tentangpokokpikiran yang terkandung di dalamtopik/judulartikel
6)      Penutup
7)      PustakaAcuan (Referensi)
SistematikaPenulisan
  1. Judul
  2. Pendahuluan
  3. TelaahPustaka
  4. MetodeAnalisis/ Penulisan
  5. Pembahasan
  6. Penutup
a.      Judul
1)      Judul yang baik: singkat, padat, mudahdipahami
2)      Menggambarkan isi pokok tulisan secara ringkas dan jelas
3)      Tidak membuka peluang untuk penafsiran ganda
4)      Panjang judulharuskurangdari 25 kata
b.      Pendahuluan
1)      LatarBelakang
2)      RumusanMasalah
3)      TujuanPenulisan
4)      ManfaatPenulisan
c.       LatarBelakang
1)      Berisiargumentasimengapamengambiljudul dan tema yang dipilih
2)      Berisiinformasi yang relevanuntukmembantumemahamipokokpermasalahan
3)      Diuraikanteori, faktaatau data yang mendukungpermasalahan yang ada
4)      Justifikasipenelitiandiuraikansecaradeduktif
d.      RumusanMasalah
1)      Das Sein DasSolen
2)      Sifatmasalahpraktis dan teoritis
3)      Beruparesearch problem yang dapatdilanjutkandalamresearch questions
4)      Masalahatautopikmenarik, mempunyaisignifikansipraktis dan teoritis, sertadapatdiuji

e.       TujuanPenulisan/ Penelitian
1)      Memuatsecaraumum dan spesifiktujuan yang ingindicapai
2)      Disesuaikandenganresearch questions
f.       ManfaatPenulisan
Diuraikanmanfaat yang diperolehbagi :
1)      Masyarakat
2)      Pemerintah
3)      Stakeholders lainnya
4)      Ilmupengetahuan
g.      TelaahPustaka
1)      LandasanTeori
2)      PenelitianTerdahulu
h.      LandasanTeori
1)      Memuatgrand design theorysecarasistematisberupapengertian dan pemahamansertaketerkaitanantarvariabel.
2)      Fungsinyauntukmenjadifondasikerangkaberpikir dan jawabansementarapenulisankaryailmiah.

i.        PenelitianTerdahulu
1)      Berisipenjelasansingkatpenelitian-penelitiansebelumnya yang relevan
2)      Munculkanresearch gap
3)      Untukmemudahkansimpulkandalambentukresearch output
4)      Fungsinyauntukmenjadijawabansementarapenelitian/ penulisankaryailmiah
j.        MetodeAnalisis
1)      Variabel dan definisioperasional: how to measure?
2)      Jenis dan sumber data: primer atausekunder
3)      Sample dan Teknik Pengambilan Sample
4)      Metodepengumpulan data: wawancara, FGD, angket, dokumentasi, dll
5)      Metodeanalisis
k.      Variabel
1)      Able to variate
2)      Suatubesaran yang dapatdiubahatauberubahsehinggamempengaruhiperistiwaatauhasilpenelitian
3)      Variabelterdiridarivariabelbebas (independen) dan variabelterikat (dependen)
l.        Jenis dan Sumber Data
1)      Data Primer : data yang diperolehsecaralangsung oleh penelitibaikmelaluimetodewawancara, observasi, FGD.
2)      Data Sekunder : data yang sudahdisediakan oleh suatulembagaatauinstitusi.
m.    Sampel dan Populasi
1)      Populasi :sebagaisekumpulanunsuratauelemen yang menjadiobyekpenelitianatauHimpunansemuahal yang ingindiketahui.
2)      Dapatberupakumpulansemuakota, semuapenduduk, semuaperusahaan.
3)      Sampeladalahunsur-unsur yang diambildaripopulasi dan mewakilipopulasitersebut.
n.      Teknik PengambilanSampel
1)      Acak (Random Sampling)
a)      Stratified random sampling
b)      Quoted random sampling
c)      Cluster random sampling
d)     Multistage random sampling
2)      TidakAcak (Non Random Sampling)
a)        Purposive sampling
b)        Accidental sampling
c)        Snow ball sampling
o.      MetodeAnalisis
1)      PendekatanKuantitatif
a)      StatistikDeskriptif
b)      AnalisisMultivariat
2)      PendekatanKualitatif
a)      Deskriptifkualitatif
b)      StudiPustaka/ Kajian Literatur
c)      Analytic Network Process (ANP) dan Analytic Hierarchy Process (AHP)
d)     Co Management, dll
p.      Pembahasan
1)      GambaranUmum
a)      ObjekPenelitian
b)      Data
2)      Intepretasifenomenadenganmembandingkannyaterhadapteori dan penelitianterdahulu.
3)      Berupapenjelasanrasionalbaikkuantitatifmaupunkualitatif
4)      Bisadalambentukgrafik, tabel, diagram ataubentuklainnya.
q.      Penutup
1)      Kesimpulan
Berisitentangtemuanpenelitianuntukmenjawabtujuanpenelitian
2)      Saran
Disampaikankepadapihak yang diharapkanmendapatmanfaat

C.    CONTOH
MembangunDayaSaing UMKM melaluiPengembanganEkonomiLokal
1.      Outline
a.       Pendahuluan
1)      LatarBelakang
2)      RumusanMasalah
3)      Tujuan dan Manfaat
b.      TinjauanPustaka
c.       Pembahasan
d.      Penutup
1)      Kesimpulan
2)      Saran
2.      Perluasan Outline
a.      Pendahuluan
1)      LatarBelakang :mengapadayasaing, mengapa UMKM, mengapaPengembanganEkonomiLokal (PEL)?
2)      RumusanMasalah :globalisasiekonomisemakinmengancamdayasaing UMKM, padahal UMKM berperanbesarterhadapperekonomianmasyarakat.
3)      Tujuan :untukmenganalisakondisidayasaing UMKM dan peran PEL
4)      Manfaat :bagimasyarakat, UMKM, Pemerintah, IlmuPengetahuan.
b.      TinjauanPustaka
1)      Konsep dan PengertianDayaSaing
2)      Konsep, karakteristik, peran dan kinerja UMKM
3)      KonsepPengembanganEkonomiLokal (PEL)?
4)      Peran PEL?
c.       Pembahasan
1)      GambaranUmumDayaSaing UMKM
2)      BagaimanaKeterkaitan PEL dan UMKM dalammeningkatkandayasaing

d.      Penutup
1)      Kesimpulan: harusmenjawabtujuan
2)      Saran :harussesuaimanfaat

D.    OUTLINE UNTUK ALINEA
1.      Pembuatan outline biasanyahanyasampai pada penulisanjudul, subjudul dan sub-subjudul
2.      Perinciankedalam sub-subjudulmenjadibanyakatausedikittergantungpada luas dan kompleksnyatopiktiapsubjudul
3.      Tetapimengembangkan sub-subjudulmenjadialinea-alinea yang mendukungnyaseringtidaksemudah yang dibayangkan
4.      Untukitudapat juga dibuat “outline-outline” tiapalineatersebut
5.      Outline yang dimaksudkandisinitidak lain adalahpikiran-pikiranpokok yang dapatdinyatakandalamsatu/dua kata; tiap kata/ katakataakan dikembangkan menjadi satu alinea
6.      Tuliskan semua kata/kata-kata yang terlintas dipikiran, tidak usah berpikirurutannyadulu

E.     MANFAAT OUTLINE
1.      Memungkinkanpenulismelihatkeseluruhangagasan yang akanditulis.
2.      Alur logikauraiangagasandapatdilihatsecarajelas.
3.      Jikaterjadikekurangtepatanpenepatan sub-subtopiksecaraalurlogikakitadapatmemperbaikinya.
4.      Jikaadasatutopik yang kurangrelevandengantemakeseluruhanjudultopikitudapatdibuang.
5.      Sebalikyajikasatutopikitupentingternyatabelummunculiadapatditambahkan pada subjudul yang tepat.
6.      Dapatdihindariadanyaketumpangtindihangagasan-gagasan di beberapasubjudul; pilih di tempat mana suatutopiksecaratepatditempatkan.
7.      Memungkinkanpenulisuntukmemilikikepastianlangkahkerja dan memilihmana yang akan dikerjakan dulu.
8.      Pengembangan outline menjadikaryatulisilmiahtidakharusselalumulaidari yang atas kemudian yang berikutnya; kita dapat muali dari manapun tergantung kesiapanreferensi.